Teh Anget

February 26, 2007 on 11:30 am | In Obrolan, Hari ini | 39 Orang SokKomentar

Pagi ini, bangun pagi dan hirup udaranya, masih bersisa aroma sisa hujan semalam. Sssshhh…oooahh….sambil menguap dan mengumpulkan nyawa yang berserakan dimana-mana, celingukan tengok meja makan. Hmmm….Gudeg Mbarek enak juga nih! Meski masih dijejali dua piring nasi tadi malam, perut ini rasanya minta diisi lagi. Kejadian selanjutnya bisa ditebak sendiri. Ambil piring, sendok, garpu dan mulai rakus menyantap menu yang ada.

Puas dengan sajian pagi ini, rasanya enak kalo minum air dingin. Setelah mengurangi 225,15 ml :-/ air dingin dari dalam kulkas, rasanya sisa-sisa sajian lezat tadi dah gak ada yang nyangkut di kerongkongan. Lalu? Mandi? Ah males kayaknya! Soalanya bis mandi biasanya jadi semangat idup, jadi inget kalo hari ini ada yang harus di lakukan. Padahal, pagi2 musim ujan gini kan enaknya gak mandi. :D Tetap dengan pakaian yang melekat tadi malam, mendekap remote TV dan menunggu sajian musik campursari di stasion tipi lokal :-"

Tapi rasanya gak lengkap mengawali hari ini tanpa setor dulu di ruang perenungan. ;)) Eh, saya jadi inget resep manjur yang rasanya cocok buat menghantarkan sang hajat ke tempat yang seharusnya! Berangkat menuju dapur, meraih gelas, tuangkan gula dua sendok makan, melirik ke teh celup kesayangan keluarga, dan seduh air panas dari termos tua warna ijo muda. Serentak teh panas tersaji. Lho? Kok bukan teh anget? :-o Ah, mumpung masih di depan kulkas, raih lagi 145,78 ml :-/ air dingin dan tuangkan ke dalam adonan *hallah*. Teh anget dengan rasa yang gak jelas siap di gelontorkan melalui sepasang bibir sensual ini :-*

Ya! Ternyata teh anget buatan sendiri bisa memicu pergolakan dalam lambung. Perut yang damai-damai saja, tiba-tiba meronta-ronta! *hayyah*. Ujung dubur pun serasa bergejolak! *yakss..jijay!* Tapi fenomena ini bukan cacingan! Memang gejalanya mirip-mirip sih, tapi bukan! Dan menurut saya ini normal! (Eh, normal gak ya?) :-o

Kejadian pagi ini pun berlanjut, dengan sunggingan senyum indah masih dari bibir manis dan sensualku ini , tempat yang dituju selanjutnya adalah persinggahan dan ruang perenungan yang dingin dan senyap! Apalagi kalo bukan WC!!

Teh anget jadi pencahar pagi ini, benarkah bisa? Atau hanya sugesti belaka?
Yang jelas, sajian nikmat-hangat ini jadi penutup adegan sarapan pagi ini…

Biadab!

February 20, 2007 on 6:54 pm | In Kejang Otak, Hari ini | 33 Orang SokKomentar

Cukup 5 menit tayangan berita itu mengusik pagiku yang tenang.

Israel berulah lagi! Sholat jumat kemarin, dijadikan bukti kekejaman mereka. Masjidil Aqsha, tempat suci ummat muslim yang masih porak poranda akibat konflik Israel-Palestina tahun lalu, masih harus menerima lemparan batu dan ledakan mortir pasukan Israel!

Negeri Para Rasul

Mungkin aku bukan orang beriman yang taat beribadah apalagi pandai bertutur kata khas ulama. Bukan aku seorang ekstrimis yang menutup sebelah mata memandang ketidakadilan di muka bumi. Tak pula aku pandai berorasi di pinggir jalan menolak dan mengutuk segala kekejian dan ketidakadilan atas negeri muslim Palestina. Tapi hati ini seolah panas, tiap kali negeri tanah suci tiga agama itu harus bergejolak akibat konflik yang seharusnya tidak terjadi.

Tanah suci Palestin, menjadi bukti 3 Rasul utusan Tuhan. Dari Musa, Isa dan Muhammad. Dari Tembok Ratapan, Jerussalem dan Masjidil Aqsha. Tiga tonggak sejarah ummat manusia berdiri megah disana. Tempat suci dimana setiap ummat harus saling menghormati dan menjunjung tingi toleransi dan peradaban manusia. Tapi apalah jadinya kini. Panas dan bergejolak dari batas wilayah satu ke daerah lainnya.

Bangsat!

Saya pun tak tahu hendak kemana umpatan tadi kusampaiakan. Israelkah? Bangsa yang telah terusir dari tanahnya sendiri ratusan tahun lalu. Bangsa Yahudi yang tanpa dosa dihabisi dengan keji oleh Hitler dan pasukan SS nya. Bangsa yang kini kembali dan mengusung label bendera Israel. Bangsa yang entah mau sampai kapan mengusik keberadaan Palestina yang juga berhak atas tanah kelahirannya.

Palestinakah? Ummat muslim mengeluk-elukkan negara yang memang mayoritas nya beragama Islam. Negara yang akrab dengan konflik. Tak puas dengan perselisihannya dengan Israel (dan Amerika tentunya), Hammas dan Fatah pun berselisih! Dua ormas dan parpol terbesar di negeri itu pun tak bisa berjabat tangan dan bersahabat membangun negeri yang seharusnya tenteram bagi seluruh ummat manusia di atasnya.

Amerika?

Negara adidaya yang tak henti-hentinya menebarkan ancaman dan kehancuran dunia lewat moncong senjatanya. Negara yang mau tidak mau harus diakui menjadi pemasok senjata dan mengecap devisa dari penjualan senapan mesin dan selongsong peluru. Adakah peran Walker Bush dan pentagon dibalik ini semua? Saya terlalu yakin untuk tak mengatakan tidak!

Untuk Timur Tengah

Bangsa Arab, tak ada yang bisa menyangkal, adalah bangsa yang akrab dengan konflik. Mungkin darah Arab adalah darah perang dan konflik. Abad 20 diramaikan dengan perang teluk. Tak henti-hentinya kala itu dunia internasional gempar atas perebutan ladang minyak terbesar di dunia. Terlalu mudah mengangkat senjata. Dari zaman kenabian pun demikian. Tak pernah mau diam atas perselisihan. Bukan untuk melerai, justru memeriahkan dengan terlibat di dalamnya. Bagaimana kini? Berganti millenium pun tak mengubah perilaku manusia.

Dan untuk saudaraku (sesama umat manusia) di Timur Tengah, berdamailah dan junjung tinggi peradaban manusia…..

Eh..ketemu lagi !!

February 18, 2007 on 11:50 am | In Obrolan, Hari ini | 26 Orang SokKomentar

Hey, pakabar dirimu?
lama juga gak ketemu
dengan dibalut warna merah marun
kamu tampak cantik dan menggoda

Ketagihan! Baca lagi.. Eh..ketemu lagi !!…

Gejayan, bukan jalan Gejayan!!

February 11, 2007 on 3:29 pm | In Kejang Otak, Obrolan | 48 Orang SokKomentar

Gerah juga sejak lama banyak orang yang salah kaprah pada salah satu jalan di Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

“Ooo..Social Agency Gejayan to?”

Guoblok!!
Gak ada Social Agency di Gejayan!
Adanya di Jalan Gejayan!
*sedikti emosi*

Lha Gejayan tu sebelah mana?

Untuk mudahnnya, Anda tahu SPBU di Jalan Gejayan?
Itulah batas selatan Dusun/Pedukuhan Gejayan, yang termasuk di Kelurahan Condong Catur, Kecamatan Depok Kabupaten Sleman.

Lalu Jalan Gejayan itu bukan Gejayan?
Ada sebagian Jalan Gejayan masuk areal Dusun Gejayan.
Selebihnya?
Ya disebut Jalan Gejayan karena jalan menuju daerah bernama Gejayan. Sama halnya dengan Jalan Kaliurang.

Apakah Gedung Pusat UGM ada di Kaliurang?
Tidak! Gedung Pusat UGM berada di Jalan Kaliurang, sebuah jalan menuju daerah bernama Kaliurang.
Apakah TVRI Jogja ada di Magelang?
Tidak! Gedung TVRI Jogja berada di Jalan Magelang, sebuah jalan menuju daerah bernama Magelang.

Memang, tidak semua jalan diakhiri dengan nama tempat yang dituju. Tapi setidaknya, Jalan Gejayan, Jalan Kaliurang, Jalan Magelang, merupakan jalan yang diberi nama atas dasar daerah yang akan dituju oleh jalan tersebut.

Hayo..ngomong Social Agency Gejayan lagi, tak sobek-sobek!!
Ndeso!!

Purnama

February 6, 2007 on 11:59 am | In Sibuk, Hari ini | 36 Orang SokKomentar

Jeng-jeng dua harian penuh!!
Capek poll !!
Hanya indah purnama yang tersisa dari perjalanan malam itu…..

purnama

Sisa cerita dengan mereka?
Disimak aja dalam gambar di persinggahan ku yang laen….

Eh, Loh! Ada mbokdhe yang protes!!

huh laporan ga lengkap blass….tidak bs dipertanggungjawabkan tp bulane apik tenan le

Comment by mbakyumu — February 6, 2007

Kan uwis mbok tulis, dan foto sudah di aplot, tinggal nikmati aja kok repot :-"

Ari : Badai Pasti Berlalu

February 5, 2007 on 1:31 pm | In Obrolan, Hari ini | 18 Orang SokKomentar

Gratis XL Ring Back Tone 1818. ketik Freebadai (Badai pasti berlalu - Ari Lasso). Biaya bulananRp.5500 (belum PPN) akan dibebankan mulai bulan berikutnya.

Tuhan memang adil. tahu kebutuhan makhluknya, meski diri ini gak pernah jarang solat tepat waktu. SMS diatas contohnya. Meski tidak langsung dari HP-nya Tuhan, namun isi SMS yang pas dengan situasi sekarang jadi buktinya.

Mulai dari festival tahunan banjir Jakarta, lumpur Lapindo yang semakin beringas, dan teman-teman yang mulai sering menanyakan “keadaan ku”.

Ring Back Tone Ari Lasso jadi jawabnya! Mumpung gratis! :D !

Untuk Endonesyah : Badai Pasti Berlalu!!

Aku malu, benar-benar malu!

February 2, 2007 on 12:50 pm | In Kejang Otak, Obrolan | 25 Orang SokKomentar

Jogja memang menjadi tujuan wisata. Meskipun tak pernah lepas dari atribut, pangkat dan embel-embel yang sulit dipertahankan kota ini. Namun kadang Jogja teramat jauh untuk dibandingkan dengan tujuan wisata lainnya. Jangankan Amsterdam, Paris, atau London, Bali-pun terlalu indah untuk dapat dikatakan sepadan dengan Jogja, sesama tujuan wisata.

Entah apa yang membuat kota kelahiranku ini begitu -maaf- jorok dan kumuh. Semrawut, jika tidak berlebihan demikian seharusnya kita berpendapat mengenai kota yang katanya tujuan wisata kedua Indonesia ini. Pengelolaan sampah yang jauh dari sempurna. PKL yang kalah tertata rapi dari tetangga sebelah, Solo. Promosi dan manajemen wisata oleh pemerintah setempat yang kurang, bahkan tidak terdengar. Dan..silakan teruskan sendiri, terlalu banyak asumsi negatif atas variabel tata kota yang baik, bahkan sempurna dari Jogja.

Kembali ke persoalan. Sebenarnya, dari sekian yang menjadi predikat Jogjakarta, semuanya berujung pada pendapat wisatawan asing, yang tentu saja datang untuk membuktikan Jogjakarta sebagai kota seni, budaya dan pariwisata.

Positif

Harus diakui, beberapa waktu belakangan ini, dapat kita lihat sendiri, Jogja semakin banyak dikunjungi wisatawan asing. Sebuah tren positif, tentu saja setelah sekian kali aksi terorisme dan gonjang-ganjing kondisi politik dalam negeri yang sangat berdampak pada citra Indonesia. Pelaku pariwisata Jogja boleh berbangga dengan kondisi dan tingkat hunian hotel, yang menjadi salah satu parameter pariwisata. Namun, banyak yang sudah menyadari, bahwa lama tinggal pelancong juga menjadi faktor penting sebuah kawasan wisata menyabet julukan tujuan wisata favorit.

Keramahan warga menjadi sesuatu yang, konon, spesial dari Jogjakarta. Namun itu saja tidak cukup. Kondisi tata ruang, kebersihan, dan keindahan tiap sudut kota saya rasa tak akan luput “dinikmati” oleh wisatawan, khususnya wisatawan luar negeri, yang begitu terbiasa dengan aspek tersebut di tempat asal mereka.

Tak Lazim

Dengan begitu, pernahkah kita membayangkan, apa yang ada di benak para wisatawan ketika berjalan-jalan di seputaran kota Jogja? Apa yang mereka pikirkan begitu keluar dari hotel dan tempat hunian lainnya?

Sempat saya perhatikan, pria bule yang dengan pe-de menggendong anaknya dan jalan-jalan keluar dari hotel Radisson Jogja Plaza. Pemandangan yang mungkin bagi kita tak lazim, mengingat betapa panas, pengap, dan berdebunya Jalan Gejayan siang itu. Diramaikan deru kendaraan roda dua khas anak muda Jogja yang memekakkan telinga, hitamnya asap knalpot dari bus kota yang berhenti sewenang-wenang. Dan sang turis pun berjalan sendirian di trotoar yang tak lebih lebar dari satu meter itu. Trotoar yang warga “asli” pun mulai enggan berjalan di atasnya, apalagi di siang bolong yang terik.

Jogja memang bukan Bali

Hendak kemana si bule tadi? Mungkinkah dia mengira dengan berdesakan menaiki angkutan umum semacam bus kota Ia dapat menikmati indahnya Jogja? Ataukah Ia mengira akan menemui sesuatu yang spesial di seputaran hotelnya di Jalan Gejayan? Obyek wisata yang menarik mungkin? Pure dan warga yang mengenakan pakaian adat setempat seperti di Bali? Saya hampir yakin, yang ditemukannya hanya kekecewaan. Bagaimanapun juga Jogja memang bukan Bali!

Dan saya teramat yakin, tiap daerah tujuan wisata memiliki ke-khas-annya sendiri-sendiri. Begitupun Daerah Istimewa Yogyakarta. Puluhan obyek wisata alam, budaya dan seni tersebar di empat kabupaten dan kotamadya Jogja-nya. Namun, begitu banyakkah hingga kita tidak tahu ketika ditanya apa yang akan turis dapatkan disana? Apa sarana transportasi yang tepat untuk mengaksesnya? Adakah fasilitas pendukung, yang bagi negara maju disebut “standard” sebuah tempat wisata?

Sudahlah, bukankah ini seharusnya sudah merupakan tugas pemerintah dan instansi terkait yang memiliki kebijakan akan pengembangan pariwisata sebagai pendapatan asli daerah? Ah, saya kira mereka cukup bangga berpakaian dinas, menerima gaji tetap, menjalankan instruksi dari atasan tanpa mampu berpikir bahkan bertindak dinamis untuk menghidupkan lagi Jogja sebagai tujuan wisata!

Jogja tujuan wisata?

Warga dan penghuni kota pun tak sempat memikirkan bule-bule yang kebingungan di “kota wisata” ini. Mereka tak kalah cuek dengan membuang sampah sembarangan dan menambah jorok kota-nya sendiri. Mendirikan lapak di tepi jalan tanpa memperdulikan kapasitas jalan yang semakin sempit, dan areal yang pernah disebut trotoar sebagai tempat pejalan kaki?

Jangankan mencoba peduli dan “kembali” ramah seperti Jogjakarta yang ada dalam brosur-brosur dan katalog wisata. Mungkin masyarakat Jogja pun sudah mulai lupa, kalau masih ada pelancong yang mencari daerah tujuan wisata bernama Jogja.

Saya akan tetap malu, bahkan untuk melempar senyum pada turis di kota ini, atau bahkan bertegur sapa. Pada mereka yang mungkin masih sanggup merendah untuk mengatakan “It’s very nice live in Jogja” dan kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan.

Seharusnya kita malu!

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^