Aku malu, benar-benar malu!

February 2, 2007 on 12:50 pm | In Kejang Otak, Obrolan |

Jogja memang menjadi tujuan wisata. Meskipun tak pernah lepas dari atribut, pangkat dan embel-embel yang sulit dipertahankan kota ini. Namun kadang Jogja teramat jauh untuk dibandingkan dengan tujuan wisata lainnya. Jangankan Amsterdam, Paris, atau London, Bali-pun terlalu indah untuk dapat dikatakan sepadan dengan Jogja, sesama tujuan wisata.

Entah apa yang membuat kota kelahiranku ini begitu -maaf- jorok dan kumuh. Semrawut, jika tidak berlebihan demikian seharusnya kita berpendapat mengenai kota yang katanya tujuan wisata kedua Indonesia ini. Pengelolaan sampah yang jauh dari sempurna. PKL yang kalah tertata rapi dari tetangga sebelah, Solo. Promosi dan manajemen wisata oleh pemerintah setempat yang kurang, bahkan tidak terdengar. Dan..silakan teruskan sendiri, terlalu banyak asumsi negatif atas variabel tata kota yang baik, bahkan sempurna dari Jogja.

Kembali ke persoalan. Sebenarnya, dari sekian yang menjadi predikat Jogjakarta, semuanya berujung pada pendapat wisatawan asing, yang tentu saja datang untuk membuktikan Jogjakarta sebagai kota seni, budaya dan pariwisata.

Positif

Harus diakui, beberapa waktu belakangan ini, dapat kita lihat sendiri, Jogja semakin banyak dikunjungi wisatawan asing. Sebuah tren positif, tentu saja setelah sekian kali aksi terorisme dan gonjang-ganjing kondisi politik dalam negeri yang sangat berdampak pada citra Indonesia. Pelaku pariwisata Jogja boleh berbangga dengan kondisi dan tingkat hunian hotel, yang menjadi salah satu parameter pariwisata. Namun, banyak yang sudah menyadari, bahwa lama tinggal pelancong juga menjadi faktor penting sebuah kawasan wisata menyabet julukan tujuan wisata favorit.

Keramahan warga menjadi sesuatu yang, konon, spesial dari Jogjakarta. Namun itu saja tidak cukup. Kondisi tata ruang, kebersihan, dan keindahan tiap sudut kota saya rasa tak akan luput “dinikmati” oleh wisatawan, khususnya wisatawan luar negeri, yang begitu terbiasa dengan aspek tersebut di tempat asal mereka.

Tak Lazim

Dengan begitu, pernahkah kita membayangkan, apa yang ada di benak para wisatawan ketika berjalan-jalan di seputaran kota Jogja? Apa yang mereka pikirkan begitu keluar dari hotel dan tempat hunian lainnya?

Sempat saya perhatikan, pria bule yang dengan pe-de menggendong anaknya dan jalan-jalan keluar dari hotel Radisson Jogja Plaza. Pemandangan yang mungkin bagi kita tak lazim, mengingat betapa panas, pengap, dan berdebunya Jalan Gejayan siang itu. Diramaikan deru kendaraan roda dua khas anak muda Jogja yang memekakkan telinga, hitamnya asap knalpot dari bus kota yang berhenti sewenang-wenang. Dan sang turis pun berjalan sendirian di trotoar yang tak lebih lebar dari satu meter itu. Trotoar yang warga “asli” pun mulai enggan berjalan di atasnya, apalagi di siang bolong yang terik.

Jogja memang bukan Bali

Hendak kemana si bule tadi? Mungkinkah dia mengira dengan berdesakan menaiki angkutan umum semacam bus kota Ia dapat menikmati indahnya Jogja? Ataukah Ia mengira akan menemui sesuatu yang spesial di seputaran hotelnya di Jalan Gejayan? Obyek wisata yang menarik mungkin? Pure dan warga yang mengenakan pakaian adat setempat seperti di Bali? Saya hampir yakin, yang ditemukannya hanya kekecewaan. Bagaimanapun juga Jogja memang bukan Bali!

Dan saya teramat yakin, tiap daerah tujuan wisata memiliki ke-khas-annya sendiri-sendiri. Begitupun Daerah Istimewa Yogyakarta. Puluhan obyek wisata alam, budaya dan seni tersebar di empat kabupaten dan kotamadya Jogja-nya. Namun, begitu banyakkah hingga kita tidak tahu ketika ditanya apa yang akan turis dapatkan disana? Apa sarana transportasi yang tepat untuk mengaksesnya? Adakah fasilitas pendukung, yang bagi negara maju disebut “standard” sebuah tempat wisata?

Sudahlah, bukankah ini seharusnya sudah merupakan tugas pemerintah dan instansi terkait yang memiliki kebijakan akan pengembangan pariwisata sebagai pendapatan asli daerah? Ah, saya kira mereka cukup bangga berpakaian dinas, menerima gaji tetap, menjalankan instruksi dari atasan tanpa mampu berpikir bahkan bertindak dinamis untuk menghidupkan lagi Jogja sebagai tujuan wisata!

Jogja tujuan wisata?

Warga dan penghuni kota pun tak sempat memikirkan bule-bule yang kebingungan di “kota wisata” ini. Mereka tak kalah cuek dengan membuang sampah sembarangan dan menambah jorok kota-nya sendiri. Mendirikan lapak di tepi jalan tanpa memperdulikan kapasitas jalan yang semakin sempit, dan areal yang pernah disebut trotoar sebagai tempat pejalan kaki?

Jangankan mencoba peduli dan “kembali” ramah seperti Jogjakarta yang ada dalam brosur-brosur dan katalog wisata. Mungkin masyarakat Jogja pun sudah mulai lupa, kalau masih ada pelancong yang mencari daerah tujuan wisata bernama Jogja.

Saya akan tetap malu, bahkan untuk melempar senyum pada turis di kota ini, atau bahkan bertegur sapa. Pada mereka yang mungkin masih sanggup merendah untuk mengatakan “It’s very nice live in Jogja” dan kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan.

Seharusnya kita malu!

25 Orang SokKomentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. indah itu relatif… ya kenapa kamu ngga nyoba nanya2? nyatanya masih banyak bule yang betah di sini… banyak turis bilang suka ke jogja :)

    btw, tulisanmu koyo essay nggo lomba karya tulis,,, meh dikirim nang ndi dit? :P

    Comment by chocoluv — February 2, 2007 #

  2. jadi kalo aku mau ke Jogja, ngga disarankan dong?

    Comment by golda — February 3, 2007 #

  3. sing ngisin2i kiy dudu jogja-ne dit…. mbok njajal ngoco….
    neng koco kuwi ono jawabanne sing bener’e ngisin2i kuwi sopo :p
    qeqeqeqeqe……

    Comment by bebek — February 3, 2007 #

  4. saya LEBIH MALU PUNYA TEMEN KAYAK KAMU!!!

    :p

    Comment by eblis — February 3, 2007 #

  5. wah ternyata didit punya ke “malu” an juga toh… kirain….

    Comment by templank — February 3, 2007 #

  6. jigur ndull… aq moco baris pertama sub bab “Tak Lazim” suwe banget goro2 ono kalimatmu :

    Dengan begitu, pernahkah kita membayangkan

    aq le mbayangke suwe tnan.

    Comment by eblis — February 3, 2007 #

  7. maap numpang komentar..

    jogja, memang semakin parah namun masih nyaman di banding jakarta…setidaknya tanyakan pada mereka yang pendatang di kota ini termasuk saya…7.5 tahun saya di sini..salam kenal!!!

    Comment by crushdew — February 3, 2007 #

  8. aku masih cinta jogja tuh :p

    Comment by ekowanz — February 3, 2007 #

  9. tp aku ra kapok ko dit nang yogya opo maneh siap jemputan :D

    Comment by mbakyumu — February 4, 2007 #

  10. masih mending yogya deh kayaknya.
    di semarang malah dengan pedenya kita ber-slogan “Beauty of Asia”.
    what??
    but whatever, kita dukung aja deh pak wali..

    Comment by boku_baka — February 5, 2007 #

  11. yang penting bebas banjir.. ;)

    Comment by arham_kendari — February 5, 2007 #

  12. dit lu nulis apa sih? jangan2 ni ngambil artikel dari Kabare Jogja ya? hayyo ngaku…..
    huuu……. ga ada ide :D

    *kabur*

    Comment by kucinggendut — February 5, 2007 #

  13. man.. pernah ke Jakarta ga?
    jauuh… pren, klo jogja saja dah kamu protes kayak gitu, gmn jakarta, ibukota negara, blah.. semrawut pren. Mungkin ente hanya melihat keadaan kota nya saja, sementara manusia/warganya ga kamu bahas. Orang-orang jogja jauh lebih baik dibandingkan penduduk jakarta. Love jogja Always.

    Comment by mysyam — February 5, 2007 #

  14. wah bener dit…
    waktu aku maen ke sagan, pelosok sagan
    ya 4JJ1!
    eduuun!
    sempit, kotor, gelap, dan banyak tikus sliweran!
    (bukan kosnya si kai-gendut lhoo!)

    bwweeeeeh jogja udah kumuh!

    Comment by thestoopid — February 6, 2007 #

  15. smoga masih byk didiet..didiet laen yg punya kemaluan sepertimu …eh…rasa malu dink :D

    Comment by kenny — February 6, 2007 #

  16. Jogja nggak bisa dibenahi. Tata kota yang tadinya indah (coba lihat foto-foto Jogja jadul) jadi rusak setelah Londo berhasil diusir. Sekarang, untuk membenahi tata kota Jogja pastilah sangat susah. Aku nggak yakin sarjono-sarjono UGM mampu memikirkan bagaimana mengembalikan atau membuat tata kota Jogja menjadi nyaman dan aman bagi turis monco negoro dan juga nyaman untuk ditinggali.

    Walopun begitu, sebagai Cah Sleman yang saat ini nyasar di Tangerang, hidup di Jogja masih terasa lebih nyaman daripada di kawasan penyangga ibu kota ini.

    Jogja nggak banjir? Coba saja jalan-jalan di Janti dari depan Ambarukmo sampai pertigaan Janti pas udah deres. Mesthi keplepek pit montormu wong air hujan pada bingung mau ngalir ke mana.

    Comment by Kombor — February 6, 2007 #

  17. terlepas dari itu semua…jogja termasuk salah satu kota yang bikin kangen..:)

    Comment by ulin — February 6, 2007 #

  18. naik bus di yogya bikin pusing, muter-muter ga keruan, trotoarnya bikin harap-harap cemas, “semoga ga disamber truk”, panasnya sama aja ga ketulungan, tapi saya ada memori indah naik becak!

    Di Jakarta becak ilang, delman (sado) juga ilang, yang ketinggalan ojek. Walau pengemudi ojek mau pun becak sama gilanya, nekat banget nerobos lalu lintas, tinggal penumpangnya jantungan duhhh.

    Comment by Shinta — February 7, 2007 #

  19. weleehh..kalo dibandingin solo ya resik jogja dab..makanannya juga sedep jogja.Kalo semrawutnya memang patut diajungi jempolnya orang yg rajin ngsms … polL!!
    Tapi aku masih cinta jogja..nek ora mulih ngendi..wong jakarta banjir…

    Comment by laras — February 11, 2007 #

  20. ya tul, emang dari malu dulu kita nampaknya bisa beranjak ke usaha perbaikan. ya ga.
    jogja emang belum separah Jabodetabek, tapi apa harus nunggu nyampe seperti itu baru kita kritik kota ini.
    Yogyakarta memang konsentrasinya sekarang ke kebudayaan alias kepinginnya dipanggil kota budaya yang jadi tujuan wisata. tapi semua itu harusnya didukung dengan perbaikan tata kota yang lebih dari sekedar BIKIN_BIKIN TAMAN Doang..!!!
    bikin kek jalur hijau disepanjang jalan, terutama jalan utama. lebarin tuh trotoar jangan terlalu banyak dilahap ama taman. jaringan listriknya juga perlu diatur agar tidak rusak kena ranting-ranting pohon.
    yah..memang semua itu tidak mudah untuk dilakukan
    tapi harus dilakukan. biar tambah banyak yang seneng jalan kaki atau naik sepeda dari pada naik motor yang jumlahnya udah buanyak banget bikin Jogja tambah puanassshh…
    Pemerintah juga kontrol dong tuh bus-bus yang tingkahnya seenake dhewe. he.he..he..
    and buat orang-orang yang tinggal di Jogja tolong dong sayangi Jogja ini. lakukan yang terbaik semampu kita buat kota Jogja tercinta. jangan sampai kita bahagia diatas penderitaan kota Jogja. OK! ^_^!!!!!

    Comment by antung — February 16, 2007 #

  21. @ mas antung : ….yuuwkkk!!!

    Comment by diditjogja — February 16, 2007 #

  22. Santai dit, meski aku bukan cah jogja tapi bapakku asli sini.sekalipun jogja udah parah(menurut pandanganmu),jogja masih cukup nyaman bahkan terlalu nyaman dari sisi pergaulan sosialnya.open minded orang2nya!.JOGJA STILL LIFE.

    Comment by SIGIT PAMUNGKAS — March 1, 2007 #

  23. wallah embuh aq ra dong sing mbok omongaake…
    nnak aku ngomong kui betuk nyatane aq maleh pengen urep neng yojo je, hehehehe…. cen udu sopo-sopo sing salah, cobo nak teko awake d sing mulai noto jogja mungkin generasi bare adewe isa nrasake piye jogya sing adewe karepke. ojo nyatur wang liya disek nak awake dewe ra iso nglakoni. peace meeeeen…. i love jogja

    Comment by gugun — June 5, 2007 #

  24. Kalo dibilang malu ya jangan lah, tapi baiknya kita mulai ikut aktif memikirkan gimana caranya Jogja bisa asri kembali, dan lebih ngangeni lagi..
    Aku udah 10 tahun gak balik ke Jogja dan itu semakin nambah kangen untuk kesana, mudah2an keadaan skr gak bikin aku kecewa, setidaknya lebih nyaman daripada Jakarta.

    Comment by Ade S — November 13, 2007 #

  25. saya jsuka jogja
    banyak warisan budayanya

    Comment by rita — August 18, 2011 #

SokKomentar

badak

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^