Sudah Dua Apa Jadinya?

May 28, 2008 on 1:07 pm | In Hari ini | 15 Orang SokKomentar

Dunia masih ingat. Ribuan nyawa direnggut kedahsyatan goncangan bumi pagi itu. Banyak canda tawa putra-putri negri berganti tangis haru mereka yang kehilangan sanak saudaranya.

Pagi cerah 27 Mei 2006, lima menit kurang dari pukul enam. Gempa Jogja yang membuka mata dunia itu seolah-olah mengubah Jogja menjadi kota mati yang penuh air mata dan darah. Ribuan nyawa bergelimpangan tak tertolong. Rumah sakit penuh sesak korban luka. Tenda dan posko di sudut-sudut kampung menyambut uluran bantuan yang datang.

Dalam waktu kurang dari sehari, saya melihat itu semua dengan mata kepala sendiri. Telepon rumah ku berdering menggantikan suara ringtone yang tak bersuara semenjak jaringan seluler padam pagi itu. Sohib saya rupanya. Di Rumah Sakit katanya! Apa gerangan? Korban gempakah dia? Apakah kostnya yang reot-kumuh itu turut hancur diterpa gempa tadi pagi? ;)) Apakah dia tertimbun kepingan CD bajakan,baju kotor plus tipi bututnya? Ternyata tidak saudara-saudara terkasih. “Aku nang rumah sakit dab, ditabrak wong…” :))

Mungkin itu awal ketika saya tau hari itu kan menjadi hari bersejarah. Bukan cuma buat Jogja tercinta, tapi pengalaman spiritual buat saya *halah* :)) Pendek kata, kami -rekan mahasiswa- mampu akhirnya turut serta membantu  ala kadarnya saudara-saudara kita di Bantul hingga Klaten melalui Posko Gempa di kampus.

Hampir empat bulan kami gak inget rumah, kos bahkan skripsi. Masuk dari satu desa ke desa lain. Mampir dan berkoordinasi dengan posko gempa lainnya, ngemis menyalurkan bantuan. Mungkin kalian penghuni setia jagat blogosphere akrab dengan nama jenis-jenis cecunguk berikut: Zam, Adi, Dipto, Tupic, Hadi. Mereka pula yang akhirnya menggagas kumpulan blogger yang dengan rela tulus ikhlas turun ke Jogja menyumbang materi dan tenaga. Sampai akhirnya segerombolan begundal (sekarang tersebutlah Djelata Andong) mendeklarasikan kumpulan itu.

Dua tahun peristiwa tersebut berselang. Rumah dan bangunan yang hancur tlah banyak dibangun. Meski saya gak tahu apa semua saudara saya disana masih ada yang hidup dibawah atap orang lain. Duka tlah terobati seiring jalannya waktu. Meski tak ada yang tahu apakah mereka mampu melupakan sanak keluarganya yang tiba-tiba pergi meninggalkan.

Bagaimana kabarmu Jogja?
Sudah dua (tahun), apa jadinya?
Semoga hari itu tak terulang.

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^