Penasaran

November 24, 2008 on 12:54 am | In Hari ini | 18 Orang SokKomentar

Kata sifat atau kata kerja?

Mungkin bisa dua-duanya. Menjadi kata sifat jikalau tidak ada obyek yang mengikutinya. Disebut kata kerja jika ada obyek yang menyertainya.

Dapat dipastikan aku bakalan terbunuh pelan-pelan jika rasa penasaran mulai memburu. Dari hal yang memang amat penting untuk dipikirkan sampai hal sepele cenderung bodoh. Seperti, “Kenapa Jakarta lebih sering tidak ramah?”. Atau pertanyaan bodoh bin tolol, “Kenapa saya musti begini, begitu, begono, bla..bla..” Ah keparat! Bahkan sekarang ini saya tidak tau siapa itu yang saya panggil keparat. Aneh kan? Memang penasaran itu aneh.
Ada yang bilang penasaran bisa dihilangkan atau dilupakan. Oke dihilangkan. Coba alternatif pertama. Kadang berhasil kadang gagal, lebih sedikit berhasilnya. Caranya? Dari hasil pengalaman baik yang gagal maupun yang berhasil dapatlah saya membuat kesimpulan, bahwasanya dengan “mencoba” dapat mengusir rasa penasaran secara baik-baik. Bagaimana kalo obyek yang membuat penasaran itu merupakan sesuatu yang dibungkus stigma negatif? Musti dicobakan jua? Teori pertama gagal.

Lupakan saja. Sudah saya bilang. Saya ini orangnya mudah penasaran. Bahkan hampir tidak ada yang menyangkal kalo saya ini cenderung ingin tau semua. Bukan urusanmu. Biarin. Itu yang bisa dan biasa saya jawab. Cuek? Siapa bilang cuek. Saya ini orangnya penasaran, bukan cuek.

Saat orang lain sibuk dengan hal penting, saya juga sibuk dengan “hal penting”, membunuh si itu yang disebut penasaran, Itu yang saya juga bingung kata sifat atau kata kerja, atau kata benda, karena yang bisa dibunuh cuman benda. Atau kata sifat sekalian kata kerja? Sudahlah.

Aktifitas sadis yang semua orang benci -termasuk saya- adalah bunuh-membunuh. Tapi kalo tak membunuh kita yang dibunuh? Killed or to be killed bukan cuman semboyan orang bisnis, itu tadi buktinya. Orang yang bertarung dengan pertanyaannya sendiri juga pake slogan yang sama, bunuh penasaran itu atau kamu yang akan dibunuhnya.

Setauku, saya ini orangnya mudah bersahabat pula tak sungkan mudah bersengketa. Termasuk ketika jumpa penasaran. Musti dibilang bersahabat. Apalagi kalau ada yang melihat saya jalan bareng sama dia. Sama penasaran. Saya gandeng erat-erat itu si penasaran. Sewaktu tersesat, diantara kami berdua, penasaranlah yang lebih sering menunjukkan jalan. Bukan saya menduakan Tuhan. Tapi memang Tuhan baik. Buktinya dia punya makhluk bernama penasaran yang selalu memberi semangat, memberi contoh, bahkan tak sungkan tanpa diminta mendorong untuk terus maju. Bisa dibilang mentor ku sejati.

Tuhan juga tak pernah lupa -tentu saja- mengirim penasaran untuk menggodaku. Yang ini lebih sering berakhir dengan pertikaian. Karena tentu saja aku kalah, kan dia mentorku. Dia yang selalu menang untuk permainan bernama kehidupan. Hidup seperti petak umpet manakala daku bermain-main dengan kesabaran. Musti tau kapan mengejar, kapan kembali ke kandang, musti banyak mencari, atau kamu kalah.
Bagaimana kini kabarnya hubungan kami? Masih. Masih sama seperti yang saya ceritakan diatas. Setia dalam persahabaran dan pertikaian. Saya juga penasaran kenapa saya musti cerita, musti begini. Aneh kan? Sekali lagi, penasaran memang aneh.

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^