Garuda Di Bioskop

June 21, 2009 on 4:55 pm | In Hari ini | 19 Orang SokKomentar

Tiba-tiba pengen bahas film yang kemarin abis ditonton, gara-gara situs yang baru dibangun Mas Iman itu. Sampeyan sudah nonton film-film hasil karya anak negeri yang diputar di bioskop akhir-akhir ini? Apa yang menarik menurut Anda? Yang menarik adalah masyarakat kita yang udah lumayan cerdas *halah sokpintar kamu Dit*. Cerdas dengan tidak lagi tertarik dengan film dengan lakon pocong, kuntilanak, wewe dan segala macam makhluk gaib itu. Lebih hebat lagi, masyarakat kita sudah bisa menertawakan film -yang bahkan belum ditontonnya- hanya dengan mendengar judulnya ;))

Lalu apa itu beda film bagus, lumayan bagus dan belum bagus *sekedar memperhalus dari sinonim “tidak-layak-tonton-apalagi-menghibur-bahkan-mendidik* menurut pemirsa seperti saya? Ya mudah saja, kalau itu film berakhir dengan cerita yang bikin penasaran alias ditunggu sekuelnya, Anda pantas menyematkan label bagus, meski kadar bagus itu bertingkat. Kalau baru sepenggal film yang Anda tonton itu sudah dapat ditebak bagaimana akan berakhir, lalu kursi bioskop mulai terasa makin sempit dan tanpa CTM pun anda merasa ngantuk, terlelap, ngorok bahkan ngiler :-&, sebaiknya jangan sekali-kali Anda mencoba menonton sekuelnya, dan itu yang patut anda cap sebagai film belum bagus -yang juga kadarnya bertingkat,menurut saya yang serba sok ini. :D

Film Liburan Sekolah

Garuda Di Dadaku. Film yang awalnya sempat membuat wajah saya berseri-seri sambil berucap, “Whaa ini..gak boleh kelewatan..”, ternyata mampu membuat saya garuk-garuk kepala di dalam bioskop *meski rajin keramas*. Judul film yang menumbuhkan rasa penasaran saya sewaktu teman saya berujar “Ah, aku sih nunggu Garuda Di Dadaku ajah..” saat mengajaknya nonton film sebelumnya, kini menghilang tanpa bekas, sama sekali. Alur cerita yang mengalir amat cepat dengan sinematografi yang biasa-biasa aja untuk ukuran layar lebar telah membunuh antusiasme saya menunggu jalan cerita dan scene-scene berikutnya.

Mengangkat cerita seorang bocah SD yang keranjingan bola (inipun tidak tersampaikan dengan “cantik”) bernama Bayu. Dikisahkan besar dalam keluarga kecil di Jakarta bersama Kakek dan Ibunya (Maudy Koesnadi), cukup memberi warna dalam jalan ceritanya. Bagaimana didikan Kakeknya yang ketat cukup jelas menjadi dasar cerita berikutnya, menarik. Lalu apakah sosok Bayu sebagai anak bengal yang gila bola sudah disampaikan dengan baik? Nampaknya harus diperbaiki dalam jenis “film liburan sekolah” yang berikutnya. Lho bukannya sudah jelas terlihat bagiamana di sepanjang cerita si Bayu ini menyembunyikan sepatu dan bola sepaknya? Benar, tidak ada yang cacat dengan itu. Lalu di bagian mana film ini terlihat wagu (aneh, cenderung tidak masuk akal dalam ungkapan Jawa :D ) ? Ali “Johan” Sihasale yang tiba-tiba muncul di lapangan parkir dan menawari Bayu masuk SSB-nya karena bisa (atau tidak sengaja?) menyepak bola masuk ke bis rombongan pemain bola yang sedang melaju itu yang mengawali ke-wagu-an ceritanya.

Bagaimana dengan pembawaan bocah 12 tahun bernama Bayu ini sebagai pemain bola? Cukup layak dipuji di film pertamanya. Tapi rasanya ada yang kurang. Hanya dengan menggiring bola melewati gang sempit tiap pagi mampu membuatnya memiliki skill dribble yang menawan? Ah, itu dia ternyata yang belum dapat dijelaskan film ini. Sepertinya tidak banyak (atau bahkan tidak ada) adegan yang menunjukkan Bayu bermain bola dengan teman sejawatnya. Rasanya ketrampilan menggiring bola di lapangan hijau sekolah sepakbola Arsenal itu perlu ditampilkan di awal cerita dengan latar belakang yang berbeda. Sepertinya pendapat miring saya akan sedikit berkurang jika di awal film ditunjukkan bagaimana Bayu bermain bola dan mencetak gol di sela-sela kesibukan lesnya.

Bayu atau Bang Duloh?

Bayu kurang bengal. Hehehe..maaf, bukannya ingin mengajarkan hal yang tidak terpuji. Cerita akan menjadi lebih dinamis, dramatis, realistis *dengan gaya ngomong muncrat-muncrat ala Tukul Arwana :)) * dan tidak datar jika Bayu digambarkan sedikit lebih bengal atau kontradiktif dihadapan kakeknya. Mungkin si pembuat cerita masih ragu atau takut bakal ditegur Kak Seto kali ya jikalau memang Bayu digambarkan lebih bengal? :)

Teman setia Bayu adalah Heri dan Bang Duloh. Nah, tokoh terakhir itu lebih sering saya tunggu dibandingkan cerita si Bayu. Gaya bicaranya yang asal, tingkahnya yang kocak mampu membuat seisi bioskop ketawa. Ramzi memang memerankan dengan baik peran yang diberikan padanya. Lalu, selepas film berakhir, siapa yang saya tunggu muncul dalam film berikutnya, Bayu atau Bang Dulloh? Kok saya pilih Ramzi a.k.a Bang Dulloh aja ya :))

Cukup entertaining lah..*sok banget Didit ni* B-). Film yang seharusnya tidak saya komentari berlebihan dalam blogbodoh ini :p memang patut disimak anak-anak usia belasan yang merasa perlu melawan orangtuanya dengan mbolos les melukis dan maen bola, kaya Saya yang mbolos ngaji trus maen layangan =)) *gak penting*. Yaweslah..selamat menikmati Garuda Di Bioskop.

Hello Wor(l)d!

June 13, 2009 on 2:19 am | In Hari ini | 24 Orang SokKomentar

Aha. Sekian lama aku membiarkan lembaran digital ini tak terjamah. Melalui berbulan-bulan tanpa menyapa sudut “dunia” ini rasanya memang beda. Beda karena sejak mengenalnya, belum pernah ku membiarkannya mengonggok selama ini. Now, I just wanna say: Hello Wor(l)d!

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^