DiditJogja
another page of my life…
Eh..ketemu lagi !!
February 18, 2007 on 11:50 am | In Obrolan, Hari ini | 26 Orang SokKomentarHey, pakabar dirimu?
lama juga gak ketemu
dengan dibalut warna merah marun
kamu tampak cantik dan menggoda
Gejayan, bukan jalan Gejayan!!
February 11, 2007 on 3:29 pm | In Kejang Otak, Obrolan | 48 Orang SokKomentarGerah juga sejak lama banyak orang yang salah kaprah pada salah satu jalan di Daerah Istimewa Yogyakarta ini.
“Ooo..Social Agency Gejayan to?”
Guoblok!!
Gak ada Social Agency di Gejayan!
Adanya di Jalan Gejayan!
*sedikti emosi*
Lha Gejayan tu sebelah mana?
Untuk mudahnnya, Anda tahu SPBU di Jalan Gejayan?
Itulah batas selatan Dusun/Pedukuhan Gejayan, yang termasuk di Kelurahan Condong Catur, Kecamatan Depok Kabupaten Sleman.
Lalu Jalan Gejayan itu bukan Gejayan?
Ada sebagian Jalan Gejayan masuk areal Dusun Gejayan.
Selebihnya?
Ya disebut Jalan Gejayan karena jalan menuju daerah bernama Gejayan. Sama halnya dengan Jalan Kaliurang.
Apakah Gedung Pusat UGM ada di Kaliurang?
Tidak! Gedung Pusat UGM berada di Jalan Kaliurang, sebuah jalan menuju daerah bernama Kaliurang.
Apakah TVRI Jogja ada di Magelang?
Tidak! Gedung TVRI Jogja berada di Jalan Magelang, sebuah jalan menuju daerah bernama Magelang.
Memang, tidak semua jalan diakhiri dengan nama tempat yang dituju. Tapi setidaknya, Jalan Gejayan, Jalan Kaliurang, Jalan Magelang, merupakan jalan yang diberi nama atas dasar daerah yang akan dituju oleh jalan tersebut.
Hayo..ngomong Social Agency Gejayan lagi, tak sobek-sobek!!
Ndeso!!
Ari : Badai Pasti Berlalu
February 5, 2007 on 1:31 pm | In Obrolan, Hari ini | 18 Orang SokKomentarGratis XL Ring Back Tone 1818. ketik Freebadai (Badai pasti berlalu - Ari Lasso). Biaya bulananRp.5500 (belum PPN) akan dibebankan mulai bulan berikutnya.
Tuhan memang adil. tahu kebutuhan makhluknya, meski diri ini gak pernah jarang solat tepat waktu. SMS diatas contohnya. Meski tidak langsung dari HP-nya Tuhan, namun isi SMS yang pas dengan situasi sekarang jadi buktinya.
Mulai dari festival tahunan banjir Jakarta, lumpur Lapindo yang semakin beringas, dan teman-teman yang mulai sering menanyakan “keadaan ku”.
Ring Back Tone Ari Lasso jadi jawabnya! Mumpung gratis!
!
Untuk Endonesyah : Badai Pasti Berlalu!!
Aku malu, benar-benar malu!
February 2, 2007 on 12:50 pm | In Kejang Otak, Obrolan | 25 Orang SokKomentarJogja memang menjadi tujuan wisata. Meskipun tak pernah lepas dari atribut, pangkat dan embel-embel yang sulit dipertahankan kota ini. Namun kadang Jogja teramat jauh untuk dibandingkan dengan tujuan wisata lainnya. Jangankan Amsterdam, Paris, atau London, Bali-pun terlalu indah untuk dapat dikatakan sepadan dengan Jogja, sesama tujuan wisata.
Entah apa yang membuat kota kelahiranku ini begitu -maaf- jorok dan kumuh. Semrawut, jika tidak berlebihan demikian seharusnya kita berpendapat mengenai kota yang katanya tujuan wisata kedua Indonesia ini. Pengelolaan sampah yang jauh dari sempurna. PKL yang kalah tertata rapi dari tetangga sebelah, Solo. Promosi dan manajemen wisata oleh pemerintah setempat yang kurang, bahkan tidak terdengar. Dan..silakan teruskan sendiri, terlalu banyak asumsi negatif atas variabel tata kota yang baik, bahkan sempurna dari Jogja.
Kembali ke persoalan. Sebenarnya, dari sekian yang menjadi predikat Jogjakarta, semuanya berujung pada pendapat wisatawan asing, yang tentu saja datang untuk membuktikan Jogjakarta sebagai kota seni, budaya dan pariwisata.
Positif
Harus diakui, beberapa waktu belakangan ini, dapat kita lihat sendiri, Jogja semakin banyak dikunjungi wisatawan asing. Sebuah tren positif, tentu saja setelah sekian kali aksi terorisme dan gonjang-ganjing kondisi politik dalam negeri yang sangat berdampak pada citra Indonesia. Pelaku pariwisata Jogja boleh berbangga dengan kondisi dan tingkat hunian hotel, yang menjadi salah satu parameter pariwisata. Namun, banyak yang sudah menyadari, bahwa lama tinggal pelancong juga menjadi faktor penting sebuah kawasan wisata menyabet julukan tujuan wisata favorit.
Keramahan warga menjadi sesuatu yang, konon, spesial dari Jogjakarta. Namun itu saja tidak cukup. Kondisi tata ruang, kebersihan, dan keindahan tiap sudut kota saya rasa tak akan luput “dinikmati” oleh wisatawan, khususnya wisatawan luar negeri, yang begitu terbiasa dengan aspek tersebut di tempat asal mereka.
Tak Lazim
Dengan begitu, pernahkah kita membayangkan, apa yang ada di benak para wisatawan ketika berjalan-jalan di seputaran kota Jogja? Apa yang mereka pikirkan begitu keluar dari hotel dan tempat hunian lainnya?
Sempat saya perhatikan, pria bule yang dengan pe-de menggendong anaknya dan jalan-jalan keluar dari hotel Radisson Jogja Plaza. Pemandangan yang mungkin bagi kita tak lazim, mengingat betapa panas, pengap, dan berdebunya Jalan Gejayan siang itu. Diramaikan deru kendaraan roda dua khas anak muda Jogja yang memekakkan telinga, hitamnya asap knalpot dari bus kota yang berhenti sewenang-wenang. Dan sang turis pun berjalan sendirian di trotoar yang tak lebih lebar dari satu meter itu. Trotoar yang warga “asli” pun mulai enggan berjalan di atasnya, apalagi di siang bolong yang terik.
Jogja memang bukan Bali
Hendak kemana si bule tadi? Mungkinkah dia mengira dengan berdesakan menaiki angkutan umum semacam bus kota Ia dapat menikmati indahnya Jogja? Ataukah Ia mengira akan menemui sesuatu yang spesial di seputaran hotelnya di Jalan Gejayan? Obyek wisata yang menarik mungkin? Pure dan warga yang mengenakan pakaian adat setempat seperti di Bali? Saya hampir yakin, yang ditemukannya hanya kekecewaan. Bagaimanapun juga Jogja memang bukan Bali!
Dan saya teramat yakin, tiap daerah tujuan wisata memiliki ke-khas-annya sendiri-sendiri. Begitupun Daerah Istimewa Yogyakarta. Puluhan obyek wisata alam, budaya dan seni tersebar di empat kabupaten dan kotamadya Jogja-nya. Namun, begitu banyakkah hingga kita tidak tahu ketika ditanya apa yang akan turis dapatkan disana? Apa sarana transportasi yang tepat untuk mengaksesnya? Adakah fasilitas pendukung, yang bagi negara maju disebut “standard” sebuah tempat wisata?
Sudahlah, bukankah ini seharusnya sudah merupakan tugas pemerintah dan instansi terkait yang memiliki kebijakan akan pengembangan pariwisata sebagai pendapatan asli daerah? Ah, saya kira mereka cukup bangga berpakaian dinas, menerima gaji tetap, menjalankan instruksi dari atasan tanpa mampu berpikir bahkan bertindak dinamis untuk menghidupkan lagi Jogja sebagai tujuan wisata!
Jogja tujuan wisata?
Warga dan penghuni kota pun tak sempat memikirkan bule-bule yang kebingungan di “kota wisata” ini. Mereka tak kalah cuek dengan membuang sampah sembarangan dan menambah jorok kota-nya sendiri. Mendirikan lapak di tepi jalan tanpa memperdulikan kapasitas jalan yang semakin sempit, dan areal yang pernah disebut trotoar sebagai tempat pejalan kaki?
Jangankan mencoba peduli dan “kembali” ramah seperti Jogjakarta yang ada dalam brosur-brosur dan katalog wisata. Mungkin masyarakat Jogja pun sudah mulai lupa, kalau masih ada pelancong yang mencari daerah tujuan wisata bernama Jogja.
Saya akan tetap malu, bahkan untuk melempar senyum pada turis di kota ini, atau bahkan bertegur sapa. Pada mereka yang mungkin masih sanggup merendah untuk mengatakan “It’s very nice live in Jogja” dan kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan.
Seharusnya kita malu!
Belum sebulan!
January 27, 2007 on 10:51 am | In Obrolan, Hari ini | 38 Orang SokKomentarTiga puluh desember tahun lalu. Tepat saat semua berkumpul dan siap-siap berangkat menuju resto franchise pizza yang terkenal itu. Diri ini dikejutkan dengan raibnya helm kesayangan yang telah menemani petualangan-petualangan seru! ![]()
Hilang persis disamping warnet gratisan. !!
Helm item merek BMC yang dibeli di Semarang pun lenyap sudah bersama kenangan-kenangan yang tak tergantikan. Benda yang ditebus delapan puluh lima ribu di deket kost-an di kawasan Pleburan, juga karena kehilangan helm yang lebih murahan, persis seperti milik eBlis itu. Setelah dibeli pun, hari berikutnya langsung dites dengan kerasnya coneblock di area Gereja Blenduk-Semarang, ya, langsung dipakai ngglangsar!!! Benar-benar benda penuh kenangan… ![]()
Setelah raib, kantong ini harus kehilangan tujuh puluh delapan ribu lagi (+500 buat parkir) di kawasan penjualan helm Kotabaru, ditemani eBlis bodoh saat harus membawa pulang helm dengan merek dan jenis yang sama, cuma beda warna, kali ini item dof.
Nah!! Belum puas dengan dua kali kehilangan helm. Jumat dua puluh enam January kemarin, kenangan pahit harus terulang di kampus ini. Helm yang belum genap dinikmati sebulan harus lenyap lagi!! Kali ini depan gedung Jurusan samping warung bakso menjadi tempat kejadian perkaranya. Helm item dof dengan stiker CahAndong pun harus rela dipinjam tanpa kembali.
Dengan berat hati, kembali ke Kotabaru, berbekal uang sisa bayar kuliahan, ketemu dengan penjual yang sama, kali ini ditemani siluman musang, dengan harga yang sama pula (tujuh puluh delapan ribu), tanpa kapok saya membawa pulang helm dengan merek, jenis dan warna yang sama!! Semoga ini yang terakhir..
Oalah Gustiii…paringono helm sabar……
Bayar….Lagi !!!
January 25, 2007 on 11:54 am | In Obrolan, Hari ini | 13 Orang SokKomentarBayar lagi. Tiap awal semester yang kali ini terasa sedikit berbeda. Sejuta dua ratus sembilan puluh ribu rupiah “saja” biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa mempertahankan status mahasiswa di Universitas ini. Status yang di waktu tertentu membuat bangga anggotanya. Dan di saat seperti ini, membuat gila anggotanya!! Bilamanakah aku selesai dan diberi kepercayaan untuk mengemban status yang baru, yang mungkin lebih berat dipikul.
Hey, semua! Doakan aku agar lancar dan selesai dengan terhormat…..
Huhh……
January 10, 2007 on 11:46 am | In Obrolan | 20 Orang SokKomentarJenuh. Kondisi yang gak bisa dijelasin. Cemberut, bunek, dan segala atribut menyebalkan lainnya bisa terjadi dalam satu waktu dalam kondisi jenuh! Gak tau mo ngapain, meski kadang orang di sekitar kita tau, apa yang justru harusnya kita kerjakan. Dalam situasi ini pun sebenarnya Ia teramat paham apa yang harusnya dia kerjakan, apa yang jadi kebiasaannya mengisi hidup. Tapi satu kata itu mampu menghalalkan seseorang untuk tidak bertindak apapun. Jenuh.
Sepi? Bukan, bukan itu. Mungkin ada banyak makhluk di sekitarnya. Banyak orang-orang yang bisa dan biasa mengisi hidupnya, siapapun itu. Kadang saat jenuh datang menyapanya, justru banyak keriangan, dan senyum yang lepas di sekitarnya. Tak jarang pula Ia turut tersenyum, bahkan memperlihatkan tawa dan candanya. Merasa ada yang salah dalam hidupnya hari ini. Perasaan bersalah mengikutinya tiap kali berjalan menjajakkan kaki di tempat yang lain.
“Ah, seharusnya tak kesini, bukankah sebaiknya aku di tempat yang lain..”
Kalimat yang terus saja terulang dalam benaknya hingga kadang tanpa sadar Ia menemukan sesuatu yang tepat untuk mengakhiri dan menghabisi jenuh itu. Sesuatu yang baru bahkan, yang belum pernah dirasakannya. Atau kadang, sesuatu yang pernah dilakukannya di masa lampau, dan tanpa terasa sangat melegakan dilakukannya kala itu. Kala jenuh datang menghampirinya.
Five? So What?!!
January 6, 2007 on 7:38 pm | In Kejang Otak, Obrolan | 18 Orang SokKomentarNih lagi di warnet deket rumah, bukan di warnet gratisan.
Pertanyaan selanjutnya adalah : kenapa saya tidak duduk disana?
Dan jawabannya adalah : karena cuma 5!
Nah!! Itu dia!
“..kalo cuma 5, ntar yang bayarin listrik siapa?”
Menjadi kata yang bisa diartikan dalam bahasa bellboy di hotel ketika mempersilakan tamunya keluar “Thank you for coming..” dengan translate yang sedikit ‘diperhalus’.
Kalo mo dijawab : “Ya kami dong! Emang ini warnet?! Abis bayar boleh pulang?!”
Kami datang untuk gunakan hak kami. Meskipun jatah “hak” saya sudah habis, dan harus mengemis “hak” dari orang lain, saya tetap tak habis pikir (meskipun lebih sering saya tidak bisa berpikir!). Sayang, saya tak pandai berkata-kata dalam bahasa seorang cendekia. Tak pandai menggunakan jari-jemari untuk mengetik untaian kata-kata kritik seperti blogger-blogger yang berpikir tajam. Pun saya harap, kata-kata bodohku ini dapat dijadika cermin kepada ….. ah, silakan tebak sendiri siapa.
Huh, sedikit berkeluh kesah kan boleh lha iya wong iki blog!. Jangan tanya siapa yang salah dalam kasus diatas. Gak akan selesai dibahas (atau dikomentari?) dalam sebuah milis sekalipun!
Sudahlah…
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^