Kaos Monyetku

August 12, 2009 on 11:24 pm | In Hari ini | 17 Orang SokKomentar

Diantara tumpukan pakaian dalam itu diselipkannya sepenggal pesan. Ditulis diatas potongan kertas bekas dan spidol seadanya, si Embak yang tiap hari cuciin baju, ngepel n bersih2 itu bilang, “Maaf..kaos yg gambar monyet warnanya pudar soalnya Bunda beli Daia pemutih Mbak gak tau”

Oh no..!

Kaosku -yang cuman seharga 12,5 itu- luntur dari abu-abu jadi makin “abu-abu” alias gak jelas..

Aq cuman bisa jawab dalam hati sambil senyum.. “Ya sudah Mbak, gakpapa..”

Kasian Mbaknya, pasti ngerasa bersalah..

*mulai mengikhlaskan juga celdam yang lama gak kembali*

Imam

August 6, 2009 on 9:06 pm | In Obrolan, Hari ini | 14 Orang SokKomentar

Belum pantas untuk jadi imam siapapun,apalagi untuknya..

Garuda Di Bioskop

June 21, 2009 on 4:55 pm | In Hari ini | 19 Orang SokKomentar

Tiba-tiba pengen bahas film yang kemarin abis ditonton, gara-gara situs yang baru dibangun Mas Iman itu. Sampeyan sudah nonton film-film hasil karya anak negeri yang diputar di bioskop akhir-akhir ini? Apa yang menarik menurut Anda? Yang menarik adalah masyarakat kita yang udah lumayan cerdas *halah sokpintar kamu Dit*. Cerdas dengan tidak lagi tertarik dengan film dengan lakon pocong, kuntilanak, wewe dan segala macam makhluk gaib itu. Lebih hebat lagi, masyarakat kita sudah bisa menertawakan film -yang bahkan belum ditontonnya- hanya dengan mendengar judulnya ;))

Lalu apa itu beda film bagus, lumayan bagus dan belum bagus *sekedar memperhalus dari sinonim “tidak-layak-tonton-apalagi-menghibur-bahkan-mendidik* menurut pemirsa seperti saya? Ya mudah saja, kalau itu film berakhir dengan cerita yang bikin penasaran alias ditunggu sekuelnya, Anda pantas menyematkan label bagus, meski kadar bagus itu bertingkat. Kalau baru sepenggal film yang Anda tonton itu sudah dapat ditebak bagaimana akan berakhir, lalu kursi bioskop mulai terasa makin sempit dan tanpa CTM pun anda merasa ngantuk, terlelap, ngorok bahkan ngiler :-&, sebaiknya jangan sekali-kali Anda mencoba menonton sekuelnya, dan itu yang patut anda cap sebagai film belum bagus -yang juga kadarnya bertingkat,menurut saya yang serba sok ini. :D

Film Liburan Sekolah

Garuda Di Dadaku. Film yang awalnya sempat membuat wajah saya berseri-seri sambil berucap, “Whaa ini..gak boleh kelewatan..”, ternyata mampu membuat saya garuk-garuk kepala di dalam bioskop *meski rajin keramas*. Judul film yang menumbuhkan rasa penasaran saya sewaktu teman saya berujar “Ah, aku sih nunggu Garuda Di Dadaku ajah..” saat mengajaknya nonton film sebelumnya, kini menghilang tanpa bekas, sama sekali. Alur cerita yang mengalir amat cepat dengan sinematografi yang biasa-biasa aja untuk ukuran layar lebar telah membunuh antusiasme saya menunggu jalan cerita dan scene-scene berikutnya.

Mengangkat cerita seorang bocah SD yang keranjingan bola (inipun tidak tersampaikan dengan “cantik”) bernama Bayu. Dikisahkan besar dalam keluarga kecil di Jakarta bersama Kakek dan Ibunya (Maudy Koesnadi), cukup memberi warna dalam jalan ceritanya. Bagaimana didikan Kakeknya yang ketat cukup jelas menjadi dasar cerita berikutnya, menarik. Lalu apakah sosok Bayu sebagai anak bengal yang gila bola sudah disampaikan dengan baik? Nampaknya harus diperbaiki dalam jenis “film liburan sekolah” yang berikutnya. Lho bukannya sudah jelas terlihat bagiamana di sepanjang cerita si Bayu ini menyembunyikan sepatu dan bola sepaknya? Benar, tidak ada yang cacat dengan itu. Lalu di bagian mana film ini terlihat wagu (aneh, cenderung tidak masuk akal dalam ungkapan Jawa :D ) ? Ali “Johan” Sihasale yang tiba-tiba muncul di lapangan parkir dan menawari Bayu masuk SSB-nya karena bisa (atau tidak sengaja?) menyepak bola masuk ke bis rombongan pemain bola yang sedang melaju itu yang mengawali ke-wagu-an ceritanya.

Bagaimana dengan pembawaan bocah 12 tahun bernama Bayu ini sebagai pemain bola? Cukup layak dipuji di film pertamanya. Tapi rasanya ada yang kurang. Hanya dengan menggiring bola melewati gang sempit tiap pagi mampu membuatnya memiliki skill dribble yang menawan? Ah, itu dia ternyata yang belum dapat dijelaskan film ini. Sepertinya tidak banyak (atau bahkan tidak ada) adegan yang menunjukkan Bayu bermain bola dengan teman sejawatnya. Rasanya ketrampilan menggiring bola di lapangan hijau sekolah sepakbola Arsenal itu perlu ditampilkan di awal cerita dengan latar belakang yang berbeda. Sepertinya pendapat miring saya akan sedikit berkurang jika di awal film ditunjukkan bagaimana Bayu bermain bola dan mencetak gol di sela-sela kesibukan lesnya.

Bayu atau Bang Duloh?

Bayu kurang bengal. Hehehe..maaf, bukannya ingin mengajarkan hal yang tidak terpuji. Cerita akan menjadi lebih dinamis, dramatis, realistis *dengan gaya ngomong muncrat-muncrat ala Tukul Arwana :)) * dan tidak datar jika Bayu digambarkan sedikit lebih bengal atau kontradiktif dihadapan kakeknya. Mungkin si pembuat cerita masih ragu atau takut bakal ditegur Kak Seto kali ya jikalau memang Bayu digambarkan lebih bengal? :)

Teman setia Bayu adalah Heri dan Bang Duloh. Nah, tokoh terakhir itu lebih sering saya tunggu dibandingkan cerita si Bayu. Gaya bicaranya yang asal, tingkahnya yang kocak mampu membuat seisi bioskop ketawa. Ramzi memang memerankan dengan baik peran yang diberikan padanya. Lalu, selepas film berakhir, siapa yang saya tunggu muncul dalam film berikutnya, Bayu atau Bang Dulloh? Kok saya pilih Ramzi a.k.a Bang Dulloh aja ya :))

Cukup entertaining lah..*sok banget Didit ni* B-). Film yang seharusnya tidak saya komentari berlebihan dalam blogbodoh ini :p memang patut disimak anak-anak usia belasan yang merasa perlu melawan orangtuanya dengan mbolos les melukis dan maen bola, kaya Saya yang mbolos ngaji trus maen layangan =)) *gak penting*. Yaweslah..selamat menikmati Garuda Di Bioskop.

Hello Wor(l)d!

June 13, 2009 on 2:19 am | In Hari ini | 24 Orang SokKomentar

Aha. Sekian lama aku membiarkan lembaran digital ini tak terjamah. Melalui berbulan-bulan tanpa menyapa sudut “dunia” ini rasanya memang beda. Beda karena sejak mengenalnya, belum pernah ku membiarkannya mengonggok selama ini. Now, I just wanna say: Hello Wor(l)d!

Penasaran

November 24, 2008 on 12:54 am | In Hari ini | 18 Orang SokKomentar

Kata sifat atau kata kerja?

Mungkin bisa dua-duanya. Menjadi kata sifat jikalau tidak ada obyek yang mengikutinya. Disebut kata kerja jika ada obyek yang menyertainya.

Dapat dipastikan aku bakalan terbunuh pelan-pelan jika rasa penasaran mulai memburu. Dari hal yang memang amat penting untuk dipikirkan sampai hal sepele cenderung bodoh. Seperti, “Kenapa Jakarta lebih sering tidak ramah?”. Atau pertanyaan bodoh bin tolol, “Kenapa saya musti begini, begitu, begono, bla..bla..” Ah keparat! Bahkan sekarang ini saya tidak tau siapa itu yang saya panggil keparat. Aneh kan? Memang penasaran itu aneh.
Ada yang bilang penasaran bisa dihilangkan atau dilupakan. Oke dihilangkan. Coba alternatif pertama. Kadang berhasil kadang gagal, lebih sedikit berhasilnya. Caranya? Dari hasil pengalaman baik yang gagal maupun yang berhasil dapatlah saya membuat kesimpulan, bahwasanya dengan “mencoba” dapat mengusir rasa penasaran secara baik-baik. Bagaimana kalo obyek yang membuat penasaran itu merupakan sesuatu yang dibungkus stigma negatif? Musti dicobakan jua? Teori pertama gagal.

Lupakan saja. Sudah saya bilang. Saya ini orangnya mudah penasaran. Bahkan hampir tidak ada yang menyangkal kalo saya ini cenderung ingin tau semua. Bukan urusanmu. Biarin. Itu yang bisa dan biasa saya jawab. Cuek? Siapa bilang cuek. Saya ini orangnya penasaran, bukan cuek.

Saat orang lain sibuk dengan hal penting, saya juga sibuk dengan “hal penting”, membunuh si itu yang disebut penasaran, Itu yang saya juga bingung kata sifat atau kata kerja, atau kata benda, karena yang bisa dibunuh cuman benda. Atau kata sifat sekalian kata kerja? Sudahlah.

Aktifitas sadis yang semua orang benci -termasuk saya- adalah bunuh-membunuh. Tapi kalo tak membunuh kita yang dibunuh? Killed or to be killed bukan cuman semboyan orang bisnis, itu tadi buktinya. Orang yang bertarung dengan pertanyaannya sendiri juga pake slogan yang sama, bunuh penasaran itu atau kamu yang akan dibunuhnya.

Setauku, saya ini orangnya mudah bersahabat pula tak sungkan mudah bersengketa. Termasuk ketika jumpa penasaran. Musti dibilang bersahabat. Apalagi kalau ada yang melihat saya jalan bareng sama dia. Sama penasaran. Saya gandeng erat-erat itu si penasaran. Sewaktu tersesat, diantara kami berdua, penasaranlah yang lebih sering menunjukkan jalan. Bukan saya menduakan Tuhan. Tapi memang Tuhan baik. Buktinya dia punya makhluk bernama penasaran yang selalu memberi semangat, memberi contoh, bahkan tak sungkan tanpa diminta mendorong untuk terus maju. Bisa dibilang mentor ku sejati.

Tuhan juga tak pernah lupa -tentu saja- mengirim penasaran untuk menggodaku. Yang ini lebih sering berakhir dengan pertikaian. Karena tentu saja aku kalah, kan dia mentorku. Dia yang selalu menang untuk permainan bernama kehidupan. Hidup seperti petak umpet manakala daku bermain-main dengan kesabaran. Musti tau kapan mengejar, kapan kembali ke kandang, musti banyak mencari, atau kamu kalah.
Bagaimana kini kabarnya hubungan kami? Masih. Masih sama seperti yang saya ceritakan diatas. Setia dalam persahabaran dan pertikaian. Saya juga penasaran kenapa saya musti cerita, musti begini. Aneh kan? Sekali lagi, penasaran memang aneh.

Sudah Dua Apa Jadinya?

May 28, 2008 on 1:07 pm | In Hari ini | 15 Orang SokKomentar

Dunia masih ingat. Ribuan nyawa direnggut kedahsyatan goncangan bumi pagi itu. Banyak canda tawa putra-putri negri berganti tangis haru mereka yang kehilangan sanak saudaranya.

Pagi cerah 27 Mei 2006, lima menit kurang dari pukul enam. Gempa Jogja yang membuka mata dunia itu seolah-olah mengubah Jogja menjadi kota mati yang penuh air mata dan darah. Ribuan nyawa bergelimpangan tak tertolong. Rumah sakit penuh sesak korban luka. Tenda dan posko di sudut-sudut kampung menyambut uluran bantuan yang datang.

Dalam waktu kurang dari sehari, saya melihat itu semua dengan mata kepala sendiri. Telepon rumah ku berdering menggantikan suara ringtone yang tak bersuara semenjak jaringan seluler padam pagi itu. Sohib saya rupanya. Di Rumah Sakit katanya! Apa gerangan? Korban gempakah dia? Apakah kostnya yang reot-kumuh itu turut hancur diterpa gempa tadi pagi? ;)) Apakah dia tertimbun kepingan CD bajakan,baju kotor plus tipi bututnya? Ternyata tidak saudara-saudara terkasih. “Aku nang rumah sakit dab, ditabrak wong…” :))

Mungkin itu awal ketika saya tau hari itu kan menjadi hari bersejarah. Bukan cuma buat Jogja tercinta, tapi pengalaman spiritual buat saya *halah* :)) Pendek kata, kami -rekan mahasiswa- mampu akhirnya turut serta membantu  ala kadarnya saudara-saudara kita di Bantul hingga Klaten melalui Posko Gempa di kampus.

Hampir empat bulan kami gak inget rumah, kos bahkan skripsi. Masuk dari satu desa ke desa lain. Mampir dan berkoordinasi dengan posko gempa lainnya, ngemis menyalurkan bantuan. Mungkin kalian penghuni setia jagat blogosphere akrab dengan nama jenis-jenis cecunguk berikut: Zam, Adi, Dipto, Tupic, Hadi. Mereka pula yang akhirnya menggagas kumpulan blogger yang dengan rela tulus ikhlas turun ke Jogja menyumbang materi dan tenaga. Sampai akhirnya segerombolan begundal (sekarang tersebutlah Djelata Andong) mendeklarasikan kumpulan itu.

Dua tahun peristiwa tersebut berselang. Rumah dan bangunan yang hancur tlah banyak dibangun. Meski saya gak tahu apa semua saudara saya disana masih ada yang hidup dibawah atap orang lain. Duka tlah terobati seiring jalannya waktu. Meski tak ada yang tahu apakah mereka mampu melupakan sanak keluarganya yang tiba-tiba pergi meninggalkan.

Bagaimana kabarmu Jogja?
Sudah dua (tahun), apa jadinya?
Semoga hari itu tak terulang.

Kontrasmu Bisu

April 3, 2008 on 4:39 pm | In Hari ini | 21 Orang SokKomentar

tinggi pohon tinggi berderet setia lindungi
hijau rumput hijau tersebar indah sekali
terasa damai kehidupan di kampungku
kokok ayam bangunkan kutidur setiap pagi

tinggi gedung tinggi mewah angkuh bikin iri
gubug gubug liar yang resah di pinggir kali
terlihat jelas kepincangan kota ini
tangis bocah lapar bangunkan ku dari mimpi malam

lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta
diatas derita mereka masih bisa tertawa
memang kuakui kejamnya kota jakarta
namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka

jakarta ohh jakarta

sikaya bertambah gila dengan harta kekayaannya
luka si miskin semakin menganga

jakarta ohh jakarta

terimalah suaraku dalam kebisinganmu
kencang teriakku semakin menghilang

jakarta ohh jakarta

kautampar siapa saja saduaraku yang lemah
manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan

jakarta ohh jakarta

angkuhmu buahkan tanya bisu dalam kekontrasannya

-kontrasmu bisu by iwan fals-

Dua Empat

November 15, 2007 on 3:45 pm | In Hari ini | 63 Orang SokKomentar

Bagi sebagian orang….mungkin tabu menyebut angka. Bagi saya *juga tadinya :D* sekarang tidak lagi. Justru itu harusnya bisa membuat seseorang lebih menghargai hidup, perjalanan waktu anugrah Tuhan O:-). Dua puluh empat. Tidak ada makna mistis, sakral atau ghaib didalamnya, hanya angka :)

Apalah artinya umur kalau tidak ada perubahan dalam diri kita dari pengangguran ke jutawan. Akan sangat berharga angka itu bagi saya, kalau sampeyan semua mau kasih saran, yang kan saya anggap sebagai hadiah dan kado :D
*pye, ngirit to? gak sah ngado =))*

Bagi yang pernah jumpa saya, tuliskan semau anda, apa yang perlu saya perbaiki dalam hidup ini. Bagi yang lebih tua dari saya :)), silakan tambahkan anjuran secukupnya. Anjuran supaya usia ku kali ini bisa lebih baik dari usia anda saat itu jikalau berkenan :D Bagi yang lebih muda dari saya *berat mengucapkannya :(* teruslah bilang saya masih muda =)) ungkapkan apa yang kan anda lakukan kalau saat ini tiba, di usia ini nanti, agar aku selalu bersemangat hadapi hidup :D

Bagi yang sudah tua kasih saran, terima kasih…

Lhoh!

Apa yang kalian tunggu!!

Tulis komentar kalian sekarang!!

:D

Happy b’day to Me! Celebrate and enjoy u’r life Dit!!

Next Page »

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^