Gejayan, bukan jalan Gejayan!!

February 11, 2007 on 3:29 pm | In Kejang Otak, Obrolan | 48 Orang SokKomentar

Gerah juga sejak lama banyak orang yang salah kaprah pada salah satu jalan di Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

“Ooo..Social Agency Gejayan to?”

Guoblok!!
Gak ada Social Agency di Gejayan!
Adanya di Jalan Gejayan!
*sedikti emosi*

Lha Gejayan tu sebelah mana?

Untuk mudahnnya, Anda tahu SPBU di Jalan Gejayan?
Itulah batas selatan Dusun/Pedukuhan Gejayan, yang termasuk di Kelurahan Condong Catur, Kecamatan Depok Kabupaten Sleman.

Lalu Jalan Gejayan itu bukan Gejayan?
Ada sebagian Jalan Gejayan masuk areal Dusun Gejayan.
Selebihnya?
Ya disebut Jalan Gejayan karena jalan menuju daerah bernama Gejayan. Sama halnya dengan Jalan Kaliurang.

Apakah Gedung Pusat UGM ada di Kaliurang?
Tidak! Gedung Pusat UGM berada di Jalan Kaliurang, sebuah jalan menuju daerah bernama Kaliurang.
Apakah TVRI Jogja ada di Magelang?
Tidak! Gedung TVRI Jogja berada di Jalan Magelang, sebuah jalan menuju daerah bernama Magelang.

Memang, tidak semua jalan diakhiri dengan nama tempat yang dituju. Tapi setidaknya, Jalan Gejayan, Jalan Kaliurang, Jalan Magelang, merupakan jalan yang diberi nama atas dasar daerah yang akan dituju oleh jalan tersebut.

Hayo..ngomong Social Agency Gejayan lagi, tak sobek-sobek!!
Ndeso!!

Aku malu, benar-benar malu!

February 2, 2007 on 12:50 pm | In Kejang Otak, Obrolan | 25 Orang SokKomentar

Jogja memang menjadi tujuan wisata. Meskipun tak pernah lepas dari atribut, pangkat dan embel-embel yang sulit dipertahankan kota ini. Namun kadang Jogja teramat jauh untuk dibandingkan dengan tujuan wisata lainnya. Jangankan Amsterdam, Paris, atau London, Bali-pun terlalu indah untuk dapat dikatakan sepadan dengan Jogja, sesama tujuan wisata.

Entah apa yang membuat kota kelahiranku ini begitu -maaf- jorok dan kumuh. Semrawut, jika tidak berlebihan demikian seharusnya kita berpendapat mengenai kota yang katanya tujuan wisata kedua Indonesia ini. Pengelolaan sampah yang jauh dari sempurna. PKL yang kalah tertata rapi dari tetangga sebelah, Solo. Promosi dan manajemen wisata oleh pemerintah setempat yang kurang, bahkan tidak terdengar. Dan..silakan teruskan sendiri, terlalu banyak asumsi negatif atas variabel tata kota yang baik, bahkan sempurna dari Jogja.

Kembali ke persoalan. Sebenarnya, dari sekian yang menjadi predikat Jogjakarta, semuanya berujung pada pendapat wisatawan asing, yang tentu saja datang untuk membuktikan Jogjakarta sebagai kota seni, budaya dan pariwisata.

Positif

Harus diakui, beberapa waktu belakangan ini, dapat kita lihat sendiri, Jogja semakin banyak dikunjungi wisatawan asing. Sebuah tren positif, tentu saja setelah sekian kali aksi terorisme dan gonjang-ganjing kondisi politik dalam negeri yang sangat berdampak pada citra Indonesia. Pelaku pariwisata Jogja boleh berbangga dengan kondisi dan tingkat hunian hotel, yang menjadi salah satu parameter pariwisata. Namun, banyak yang sudah menyadari, bahwa lama tinggal pelancong juga menjadi faktor penting sebuah kawasan wisata menyabet julukan tujuan wisata favorit.

Keramahan warga menjadi sesuatu yang, konon, spesial dari Jogjakarta. Namun itu saja tidak cukup. Kondisi tata ruang, kebersihan, dan keindahan tiap sudut kota saya rasa tak akan luput “dinikmati” oleh wisatawan, khususnya wisatawan luar negeri, yang begitu terbiasa dengan aspek tersebut di tempat asal mereka.

Tak Lazim

Dengan begitu, pernahkah kita membayangkan, apa yang ada di benak para wisatawan ketika berjalan-jalan di seputaran kota Jogja? Apa yang mereka pikirkan begitu keluar dari hotel dan tempat hunian lainnya?

Sempat saya perhatikan, pria bule yang dengan pe-de menggendong anaknya dan jalan-jalan keluar dari hotel Radisson Jogja Plaza. Pemandangan yang mungkin bagi kita tak lazim, mengingat betapa panas, pengap, dan berdebunya Jalan Gejayan siang itu. Diramaikan deru kendaraan roda dua khas anak muda Jogja yang memekakkan telinga, hitamnya asap knalpot dari bus kota yang berhenti sewenang-wenang. Dan sang turis pun berjalan sendirian di trotoar yang tak lebih lebar dari satu meter itu. Trotoar yang warga “asli” pun mulai enggan berjalan di atasnya, apalagi di siang bolong yang terik.

Jogja memang bukan Bali

Hendak kemana si bule tadi? Mungkinkah dia mengira dengan berdesakan menaiki angkutan umum semacam bus kota Ia dapat menikmati indahnya Jogja? Ataukah Ia mengira akan menemui sesuatu yang spesial di seputaran hotelnya di Jalan Gejayan? Obyek wisata yang menarik mungkin? Pure dan warga yang mengenakan pakaian adat setempat seperti di Bali? Saya hampir yakin, yang ditemukannya hanya kekecewaan. Bagaimanapun juga Jogja memang bukan Bali!

Dan saya teramat yakin, tiap daerah tujuan wisata memiliki ke-khas-annya sendiri-sendiri. Begitupun Daerah Istimewa Yogyakarta. Puluhan obyek wisata alam, budaya dan seni tersebar di empat kabupaten dan kotamadya Jogja-nya. Namun, begitu banyakkah hingga kita tidak tahu ketika ditanya apa yang akan turis dapatkan disana? Apa sarana transportasi yang tepat untuk mengaksesnya? Adakah fasilitas pendukung, yang bagi negara maju disebut “standard” sebuah tempat wisata?

Sudahlah, bukankah ini seharusnya sudah merupakan tugas pemerintah dan instansi terkait yang memiliki kebijakan akan pengembangan pariwisata sebagai pendapatan asli daerah? Ah, saya kira mereka cukup bangga berpakaian dinas, menerima gaji tetap, menjalankan instruksi dari atasan tanpa mampu berpikir bahkan bertindak dinamis untuk menghidupkan lagi Jogja sebagai tujuan wisata!

Jogja tujuan wisata?

Warga dan penghuni kota pun tak sempat memikirkan bule-bule yang kebingungan di “kota wisata” ini. Mereka tak kalah cuek dengan membuang sampah sembarangan dan menambah jorok kota-nya sendiri. Mendirikan lapak di tepi jalan tanpa memperdulikan kapasitas jalan yang semakin sempit, dan areal yang pernah disebut trotoar sebagai tempat pejalan kaki?

Jangankan mencoba peduli dan “kembali” ramah seperti Jogjakarta yang ada dalam brosur-brosur dan katalog wisata. Mungkin masyarakat Jogja pun sudah mulai lupa, kalau masih ada pelancong yang mencari daerah tujuan wisata bernama Jogja.

Saya akan tetap malu, bahkan untuk melempar senyum pada turis di kota ini, atau bahkan bertegur sapa. Pada mereka yang mungkin masih sanggup merendah untuk mengatakan “It’s very nice live in Jogja” dan kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan.

Seharusnya kita malu!

1000 Buku Untuk Tunanetra (lanjutan)

January 24, 2007 on 9:46 am | In Kejang Otak, Hari ini | 6 Orang SokKomentar

Wow..ada juga yang tertarik!
Oke, to the point saja!

Temen-temen *SokKenal* bisa baca sendiri disini. Disitu ada petunjuk lengkapnya. Tapi jika ingin mendengarkan dari penuturan saya langsung…*ehem,gaya!* setahu saya sih begini… Ketagihan! Baca lagi.. 1000 Buku Untuk Tunanetra (lanjutan)…

1000 Buku Untuk Tunanetra

January 23, 2007 on 2:31 pm | In Kejang Otak, Hari ini | 16 Orang SokKomentar

Pernahkah kita bayangkan, hidup tanpa warna-warni dunia, yang dapat dinikmati hanya dengan sepasang bola mata kita? Pernahkan kita sejenak renungkan, tawa canda, gelak tawa ceria hanya dapat kita dengarkan? Saat menikmati indahnya dunia, bagaimana rasanya saudara kita yang dalam terang warna dunia hanya mampu melihat sepi?

Cukup sampai disitu! Ini bukan perenungan. Perenunganpun takkan ada makna yang dapat kita sampaikan pada mereka. Mereka? Saudara kita yang hanya mampu melihat sepi dalam terang warna dunia. Bagaimana kita menyantap indahnya senja sore hari, melihat pria rupawan dan gadis jelita, warna indah pelangi, hanya mampu mereka dengar dongeng dari bibir manusia yang mungkin tak pernah memikirkan mereka!!

Sadarkah kita, indra apa yang paling sering berinteraksi dengan komputer saat blogging? Mata! Ada jutaan saudara kita yang bahkan tak mampu mendeskripsikan hurup B dalam kata Blogging sebagai gambar 2 dimensi. Tapi mereka juga ingin menikmati ramainya dunia, hanya dengan membaca.

Apa yang sudah kita (saya!!) lakukan untuk membantu mereka? Sebagian saudara kita sudah lebih dahulu melangkah, membantu dengan jari-jemari mereka. Ya! Buku bagi tunanetra, pernahkah kita bayangkan sebelumnya? Buku yang tidak mengandalkan gambar 2 dimensi yang disebut “huruf”. Buku yang diperuntukkan bagi mereka dalam bentuk Braille.

Saya pun belum berbuat apapun bagi mereka…
Mari kita sama-sama…

Terinspirasi dari para relawan yang dicintai Tuhan karena tangan dan jemari mereka..

ps: semua yang merasa mampu mengetik dan mengoperasikan software word processing Mic.Word, terketuk hatinya, terbuka kalbunya, mari…bantu mereka!! Kirimkan tulisan anda!! Jangan bangga jadi selebblog tanpa dapat menulis bagi orang lain!!

Terbang

January 15, 2007 on 11:42 pm | In Kejang Otak, Hari ini | 21 Orang SokKomentar

Dikisahkan dengan lembut oleh Syafi’ie Antonio, pada pagi ini dalam Kajian Silaturahmi. Ternyata membuatku sedikit termenung untuk mengambil hikmah dari kisah ini. Konon, dalam kehidupan seekor burung, ada hikmah yang sepatutnya ditiru oleh manusia.

Seekor burung, kata Syafi’ie, pasti bangun pagi-pagi benar. Tidak ada burung yang bangun pukul tujuh atau delapan, kecuali sakit atau sudah meninggal. Burung yang bangun pagi-pagi ini, lalu mulai mengembangkan sayapnya. Dan sejenak ia bertanya pada Tuhan-nya. “Tuhan, apakah ada udara untukku pagi ini?”. Dan Tuhan pun menjawab, “Oh, jangan khawatir, selalu tersedia udara yang melimpah untukmu”.

Dan burung pun mengepakkan sayapnya lalu terbang. Nah, burung yang semenjak pagi ini terbang, lalu mencari makan seharian. Dan Tuhan pun pernah berpesan mengenai perjalanan burung ini, “Janganlah kamu terbang ke gurun pasir, atau tempat tandus, terbanglah ke padang ilalang atau tempat yang menghijau, dimana kau akan temukan banyak rejeki disana”.

Setiap burung yang terbang pagi, mencari makan menuju tempat yang hijau dan terdapat banyak makanan, biasanya selalu pulang ke kandangnya setelah seharian dengan perut kenyang. Tentu saja, dia pulang membawa makanan untuk keluarganya.

Nah, dari perjalanan terbangnya burung, kita manusia, dapat mengambil hikmah. Pertama, burung yang bangun pagi-pagi dan berdialog dengan Tuhan-nya selalu memiliki KOMITMEN dalam hidup ini. Dan tiap kali ia terbang yang ia kerjakan hanyalah PROSES mengepakkan sayap dan terbang tinggi menuju tempat yang dimana ia dapat mendapatkan rejeki yang melimpah. Karena ia YAKIN bahwa udara, rejeki serta ANUGERAH di padang ilalang yang subur telah disediakan dengan cukup oleh Tuhan.

Dari kehidupan terbangnya burung ini, dapat dipetik pula dua hikmah lainnya. Bahwa burung selalu BERHEMAT, meski ia pulang dalam keadaan kenyang, ia pandai berhemat dengan membawakan makanan yang cukup untuk anak dan keluarganya. Pun begitu, tak lupa ia kan BERUSAHA SEDIKIT DEMI SEDIKIT mendapatkan ilalang tuk membangun rumahnya.

Five? So What?!!

January 6, 2007 on 7:38 pm | In Kejang Otak, Obrolan | 18 Orang SokKomentar

Nih lagi di warnet deket rumah, bukan di warnet gratisan.
Pertanyaan selanjutnya adalah : kenapa saya tidak duduk disana?
Dan jawabannya adalah : karena cuma 5!
Nah!! Itu dia!
“..kalo cuma 5, ntar yang bayarin listrik siapa?”
Menjadi kata yang bisa diartikan dalam bahasa bellboy di hotel ketika mempersilakan tamunya keluar “Thank you for coming..” dengan translate yang sedikit ‘diperhalus’.
Kalo mo dijawab : “Ya kami dong! Emang ini warnet?! Abis bayar boleh pulang?!”
Kami datang untuk gunakan hak kami. Meskipun jatah “hak” saya sudah habis, dan harus mengemis “hak” dari orang lain, saya tetap tak habis pikir (meskipun lebih sering saya tidak bisa berpikir!). Sayang, saya tak pandai berkata-kata dalam bahasa seorang cendekia. Tak pandai menggunakan jari-jemari untuk mengetik untaian kata-kata kritik seperti blogger-blogger yang berpikir tajam. Pun saya harap, kata-kata bodohku ini dapat dijadika cermin kepada ….. ah, silakan tebak sendiri siapa.
Huh, sedikit berkeluh kesah kan boleh lha iya wong iki blog!. Jangan tanya siapa yang salah dalam kasus diatas. Gak akan selesai dibahas (atau dikomentari?) dalam sebuah milis sekalipun!

Sudahlah…

« Previous Page

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^